Minggu, 22 Maret 2020

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria: "Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor"

Resensi Buku


Identitas buku : 
1. Judul : Melacak Sejarah Pemikiran Agraria
    Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
2. Penulis : Ahmad Nashih Luthfi
3. Penerbit : STPN Press, Pustaka Ifada, SAINS
4. Halaman : lii + 348 hlm.
5. Cetakan : Juli 2011
6. ISBN : 978-602-95177-4-3
Petinjau :
Buku ini diangkat dari tesis penulis di Program Pascarjana Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada yang di selesaikan pada akhir 2009. Kajian tentang pemikiran agraria dengan menempatkan “apa yang dipikirkan oleh para pelakunya” sekaligus “pelaku itu sendiri”, yakni ilmuwan sebagai fokus kajian, adalah ikhtiar untuk mengetahui state of the art suatu disiplin ilmu dan melihat belitkelindan antara ilmu(wan), kekuasaan, modal, dan masyarakat di satu sisi, dan kaitan persoalan agraria, kemiskinan, dan kapitalisme di sisi yang lain. Apa yang ditulis ini tidak selalu ada yang baru, atau juga menyegarkan. Sebab yang dilakukan justru adalah menghadirkan apa yang lama itu hadir di tengah-tengah kekinian, sesuatu yang dekat bagi dunia akademis, bahkan dekat sekali, namun barangkali dilupakan: studi agraria, suatu ranah yang bersentuhan dengan hajat hidup orang banyak.
Isi :
Setelah Indonesia merdeka, persoalan agraria mendapat perhatian serius para pendiri bangsa. Mereka menyadari bahwa hakekat sejarah kolonial adalah sejarah eksploitasi sumber-sumber agraria di nusantara. Sehingga kemerdekaan adalah kesempatan baru untuk merestukturisasinya ke arah yang lebih berkeadilan.
Buku ini akan mencoba pertama, melacak genealogi pemi- kiran ekonomi politik transformasi pedesaan sejak abad XIX. Kedua, mengidentifikasi dan memetakan pemikiran-pemikiran para ilmuwan “Mazhab Bogor” dan genealoginya dengan pemikiran terdahulu, serta membandingkan satu dengan lainnya. Ketiga, melihat bagaimana institusionalisasi gagasan mereka di berbagai wilayah: kampus, LSM/CSO, lembaga pemerintah, dan masyarakat akar rumput. Hubungan antara gagasan (teks) dengan masyarakat di berbagai lapisannya, berlangsung melalui adanya mediasi. Keempat, pemikiran-pemikiran mereka akan dihadapkan pada dua konteks yang berbeda, yakni konteks pergeseran ekonomi-politik Orde Lama menuju pembangunanisme Orde Baru dalam berbagai program modernisasi desa/pertanian, yang secara umum dibaca sebagai agenda liberalisasi ekonomi (terutama tahun 1986-1992). Pemikiran dua tokoh mazhab Bogor, yaitu Sajogyo dan Gunawan mulai tumbuh, berproses dan berkembang mula-mula melalui kelembagaan Survey Agro Ekonomi, kemudian di Pusat Studi Pembangunan dan Institusi Pertanian Bogor. Gagasan tentang stratifikasi sosial (the notion of social stratification) dihidupkan oleh para tokoh ini dalam kelembagaan SAE, meskipun justru dihilangkan oleh kebijakan rezim.
Pernyataan Sajogyo mengenai Modernization without Development mencerminkan nosi itu, sebagai kritik terhadap proses pembangunan yang sedang berlangsung. Demikian juga strategi landreform by leverage yang diwacanakan oleh Gunawan Wiradi. Kedua pernyataan itu dapat dianggap sebagai manifesto akademis pemikiran Mazhab Bogor. Gagasan-gagasan kedua tokoh secara khusus terbit dan beredar melalui terbitan berkala SAE yang kemudian berkembang menjadi jurnal Agro Ekonomika. Lebih dari itu, gagasan mereka juga banyak tersebar sebagai makalah/paper di forum-forum ilmiah, forum resmi pemerintah, artikel di media massa, laporan penelitian, dan buku-buku.
Kekurangan Buku :
Menurut saya, sebagai orang awam dalam membaca buku tentang agraria buku ini kurang memberikan pemahaman bagi pembaca khususnya bagi pemula. Sehingga pesan yang mau diutarakan serta isi dalam buku tidak tersampaikan pada pembaca.
Keunggulan Buku : 
Buku ini berisi tentang upaya penelusuran sejarah pemikiran pembangunan pedesaan Indonesia. Memiliki setiap pemikiran terutama dari perfektif sosial dan ekonomi-politik, aktivis gerakan sosial maupun kalangan akademik.
Penutup Resensi Buku : 
Penulis berharap buku ini memberi manfaat dalam mengetahui produksi pengetahuan tentang pembangunan (sosial-ekonomi) pedesaan pada kurun waktu tertentu. Pembacaan terhadap sejarah pemikiran akan memberi kontribusi pada pemahaman atas peta pengetahuan ilmu sosial Indonesia saat ini, khususnya terkait dengan state of the art ilmu sosiologi pedesaan Indonesia. Dengan demikian, tuduhan bahwa sejarah kesarjanaan di Indonesia berjalan terputus-putus bahkan sering dimulai tanpa pendasaran pada pencapaian-pencapaian sebelumnya, akan dapat dihindari.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar